Saya (mungkin) Seorang Pahlawan Pajak

Pak Presiden Esbeye pernah bilang kalo wajib pajak yang berdisiplin dan memenuhi kewajibannya adalah pahlawan. Dan dari pernyataan Pak Presiden itu dapat saya simpulkan bahwa saya adalah seorang pahlawan.

Lho kok bisa?

Oke, sekarang mari kita lihat penjelasan saya berikut ini.

Saya ini seorang perokok. Dan anda tahu kan kalo dalam setiap bungkus rokok itu pasti ada pita cukainya (kecuali rokok ilegal). Anda juga pasti tahu kan kalo cukai itu sama dengan pajak. Nah berarti dapat disimpulkan bahwa saya (dan jutaan perokok lain di negeri ini) adalah pahlawan pajak.

Lho kok bisa? bukankah yang beli pita cukai produsen rokok? berarti produsen rokok dong yang jadi pahlawan pajak.

Tahukah anda kalau harga rokok itu tak akan semahal sekarang seandainya tak ada cukai. Memang iya, produsen rokoklah yang membeli pita cukai itu dari Kantor Bea dan Cukai. Dan biaya pembelian pita cukai itu kemudian dibebankan kepada konsumen. Dan besarnya cukai rokok itu mencapai sekitar 50% alias setengah dari harga rokok!

Dan sekarang mari kita bikin hitung-hitungan sederhana. Saya setiap hari mengkonsumsi satu bungkus rokok merk XXX isi 12 batang dengan harga 8.000 rupiah per bungkus. Di pita cukainya tertera kalau tarif cukainya adalah Rp. 310/batang. Jadi dengan membeli 1 bungkus rokok ini saya telah menyumbang 3.720 rupiah kepada negara. Anggap saja saya setiap hari membeli 1 bungkus rokok merek XXX itu selama 1 tahun penuh. Berarti dalam setahun saya menyumbang pendapatan negara sebesar Rp. 3.720 x 365 hari = Rp. 1.357.800!!!!

Duit segitu bagi saya adalah jumlah yang cukup banyak bagi saya. Tapi saya dengan sukarela (bahkan senang) menyetorkan kepada negara. Udah gitu nambah penyakit pula :(. Jadi mungkin perokok seperti saya ini bisa disebut sebagai pahlawan penyakitan :D.

Sekian penjelasan konyol dari saya. Moral dari postingan ini adalah merokok itu tidak baik, boros, ngabisin duit, bikin gigi kuning, bikin penyakitan, bikin impotensi. Jadi mending gak usah ngerokok deh.

Iklan